Working Mom or Stay at Home Mom?

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan tersulit yang saya temui seumur hidup saya. Ada yang lagi galau tentang pilihan hidup yang satu ini? Hhmmm, siapa tau cerita saya ini bisa mencerahkan moms.. 

Sebelum menjadi stay at home mom, saya seorang ibu pekerja yang menjalani hubungan jarak jauh (atau bahasa kerennya LDR, tapi karna udah merit jadi LDM) dengan suami saya. Ya, ini tuntutan pekerjaan kami yang belum memungkinkan untuk meminta bekerja di wilayah yang sama. Dari sebelum menikah sampai sudah menikah, kami sudah terbiasa dengan keadaan ini.

Kami berdua sama sama seorang auditor. Bedanya, suami saya di perbankan, dan saya di pemerintahan. Income bulanan kami beda beda tipis. Gaji pokok saya, lebih besar dari take home pay pekerjaan saya sebelumnya yang menjadi frontliner di bank swasta. Tunjangannya pun lebih besar dari gaji bulanannya. Belum lagi kalo ada tugas luar kota, dan seringnya, pekerjaan saya mengharuskan saya untuk luar kota. Jadi untuk masalah finansial, Alhamdulillah sudah pernah menikmati rasa yang istilahnya seperti kemerdekaan finansial. Hihihi Tapi apakah saya bahagia? 

Ternyata uang tidak seutuhnya membuat saya bahagia. Konsekuensinya, saya harus berpisah dengan suami saya. Kami bertemu 4-5 minggu sekali. Dan itu pun harus 2 kali penerbangan. Kondisi itu sudah kami lakukan selama hampir 2 tahun. Yah, sama saja ya uang pun habis tertukar dengan boarding pass pesawat. Hingga anak pertama kami lahir, barulah saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, yang bisa melayani suami saya kapanpun dan mengasuh anak kami bersama. 

Keputusan ini bukanlah sesuatu hal yang mudah. Di satu sisi saya sudah mencintai pekerjaan saya itu, dan tentu saya sudah ada di comfort zone. Tapi di sisi lain, apalagi saat saya hamil, saya merasa “sendiri”, sangat ingin rasanya dekat dengan suami, dan banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala. Kalo anak ini sudah lahir, saya harus bagaimana? Siapa yang mengurusnya? Apa saya bisa sendiri mengurusnya? Mengasuhnya tanpa suami saya? Argh, untuk apa saya bekerja sampai sejauh ini? Dan masih banyak lainnya.. Setiap kali memikirkannya, saya tidak bisa untuk tidak menangis. Mencoba kuat untuk melewati masa kehamilan tanpa didampingi suami, tapi sungguh, bagi saya itu tidak mudah. Akhirnya saya putuskan untuk tidak memikirkannya sampai anak saya lahir. Karna stress sangat tidak baik untuk janin dalam kandungan ibu. 


Sampai kelahiran anak pertama saya, kami belum juga ada keputusan akhir. Walau sebenarnya saya sudah memberikan jawaban pada diri saya sendiri untuk resign dari pekerjaan saya, ini hanya untuk menenangkan hati dan berhenti sejenak memikirkan hal berat itu. Tapi tetap saja, orang di sekitar selalu bertanya. Dan orangtua saya yang tahu niat saya untuk resign selalu mengingatkan untuk memikirkannya kembali. Mereka cenderung tidak setuju. 

Selain meminta petunjukNya, saya juga berpikir keras. Ya memang itu sangat menguras pikiran, dan hati. (Sounds lebay gitu ya.. ya seperti itulah..) satu pertanyaan yang mencerahkan saya adalah 

Apa mimpimu? Apa tujuanmu?

Dari situlah saya mulai merangkai rencana, dan memikirkan kembali dari awal hingga jauh ke depan. 

Mimpi saya adalah memiliki keluarga yang bahagia sakinah mawaddah warohmah, tinggal satu atap, mengasuh dan mendidik anak bersama suami. Mungkin mimpi ini terkesan dangkal untuk sebagian orang. Sebagian pasti heran, kenapa saya tidak memiliki mimpi sebagai capaian diri saya sendiri? Karir misalnya.. entahlah bagi saya, sedari dulu, sebelum saya menikah pun, prinsip saya, keluarga adalah yang utama. Yang lainnya akan menyusul. 

Lalu bagaimana dengan pertimbangan masa depan. Kan tidak bisa selalu mengandalkan suami, bagaimana kalo terjadi sesuatu? (Tak usah disebutkan terjadi apa ya, yang jelas tidak diinginkan). Pikiran ini sempat mampir, jawaban saya tetep sama. Rizki, jodoh, sudah ditetapkan dari sana. Tapi tetep ikhtiar. Ikhtiar saya nanti, saya harus tetep punya income sendiri, entah usaha, usaha apa entah.. haha

Mungkin dengan petunjukNya pula, semakin hari niat untuk mengajukan permohonan pengunduruan diri dengan hormat semakin kuat. Dan Alhamdulillah, suami juga ridho. Justru itu yang terpenting. Ridho suami. Ini lebih penting daripada ridho orangtua, karna setelah menikah, seluruh tanggungjawab berpindah kepada suami. Jadi walaupun orangtua sedikit kecewa, tapi saya percaya akan ada jalan. Karna kembali lagi, niat awal saya untuk anak saya, keluarga saya. 

Kalo kerja, kan anak bisa dititipin? Hhmm.. iya benar. Tapi tiap ibu mempunyai pemikiran berbeda beda, kondisi berbeda beda. Jadi, kalo moms lagi galau karna ini juga, moms jangan sekali kali hanya ngikutin trend atau teman2 moms ya.. saran saya si begitu. Moms harus bisa mengenali kondisi diri sendiri dan lingkungan moms, dengan tetap mengutamakan anak. Kalo moms ingin tetap menjadi ibu pekerja, moms juga harus tetap komit untuk merawat anak. Bagi ibu pekerja harus extra effort, karna pikiran dan waktunya lebih banyak terbagi untuk anak, dan kantor.

Kalo saya, jika masih menjadi working mom, kondisi saya belum memungkinkan seatap dengan suami. Jika mengurus anak sendiri di rantau saya jelas tidak bisa. ART atau pengasuh sampai anak lahir pun belum dapet. Orang tua saya tidak bisa diajak ke rantauan untuk sekedar menjaga anak saya. Daycare? Saya masih kurang percaya dengan daycare yang ada di tempat rantauan saya itu. 

Jadi, inilah keputusan saya.. 

Langkah ini tidak bisa di undo. Tidak ada jalan lain selain lebih sukses dan bahagia menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. 

Jangan sedih, rezeki pasti akan ada di banyak pintu lainnya. Tinggal dijemput.. 

Jangan khawatirkan akan masa depan yang belum tentu terjadi, positif thinking aja.. 

Kalo ditanya lebih baik mama antara working mom atau stay at home mom? Saya tidak bisa menjawabnya. Kembali lagi, setiap ibu memiliki pertimbangan sendiri sendiri. Cuma dia yang tau sebaiknya bagaimana menjadi istri, ibu bagi keluarganya. 

Kalo menurut saya, dari keduanya, yang terpenting adalah tetap menomorsatukan anak, keluarga. Tetap memberikan yang terbaik untuk mereka. 

Stay at home mom belum tentu mencurahkan segalanya untuk keluarga, belum tentu dia seorang yang solehah hanya karna memilih jalan itu (yang menurut literatur agama yang kubaca lebih baik itu). Begitu juga sebaliknya. 

Apapun pilihan hidupmu, jalani dengan ikhlas, penuh semangat dan bahagia. 

Advertisements

2 thoughts on “Working Mom or Stay at Home Mom?

  1. Pertanyaan sulit setiap ibu 🙂 saya jg dulu bingung sebelum resign. Tapi plong rasanya krn juga udah gak bahagia bekerja. Setahun berhenti lalu hamil, Alhamdulillah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s